About Me
- Ivant Verghiawan B'We
- Jatibarang, Indramayu - Jawa Barat, Indonesia
- Biasa_biasa aja. Pendiam, baik hati and gak sombong lahh,...!!
Biografi TheKing Of Dangdut H.Roma Irama : Film Dan Musik.


Rhoma Irama adalah seorang revolusioner dalam dunia musik Indonesia yang mencanangkan semboyan Voice of Moslem pada 13 Oktober 1973 sekaligus menjadi agen pembaharu musik Melayu yang memadukan unsur musik rock dalam musik melayu serta melakukan improvisasi atas syair, lirik, kostum dan penampilan di atas panggung.
Raden Haji Oma Irama atau disingkat Rhoma Irama yang berjuluk Raja Dangdut, lahir pada tanggal 11 Desember 1946 di Tasikmalaya, Jawa Barat. Ia bergelar raden karena pada kedua orang tuanya mengalir darah bangsawan/ningrat. Ia merupakan putra kedua dari dua belas bersaudara, yaitu delapan saudara laki-laki dan empat saudara perempuan (delapan saudara kandung, dua saudara seibu dan dua saudara bawaan ayah tirinya).
Ayahnya, Raden Burdah Anggawirya merupakan mantan komandan gerilyawan Garuda Putih pada zaman kemerdekaan. Ia memberi nama ‘Irama’ karena bersimpati terhadap grup sandiwara asal Jakarta yang bernama Irama Baru yang pernah diundang untuk menghibur pasukannya di Tasikmalaya. Ia sangat pandai dalam memainkan alat musik serta menyanyikan lagu-lagu cianjuran. Sedangkan Ibunya bernama Tuti Juariah, ia pun merupakan keturunan ningrat dan pandai pula dalam menyanyi, seperti lagu No Other Love yang sering didengarkan Rhoma sewaktu kecil.
Sebelum tinggal di Tasikmalaya, keluarganya tinggal di Jakarta dan di kota inilah, kakaknya Benny Muharram dilahirkan. Sedangkan Rhoma lahir di Tasikmalaya beberapa saat setelah pindah ke kota tersebut. Setelah lahir Rhoma, lahir pula adik-adiknya, seperti Handi dan Ance. Setelah itu, mereka pindah lagi ke Jakarta dan tinggal di Jalan Cicarawa, Bukit Duri, lalu pindah ke Bukit Duri Tanjakan. Di kota inilah mereka menghabiskan masa remajanya sampai tahun 1971, lalu pindah ke Tebet.
Semenjak kecil Rhoma sudah terlihat bakat seninya. Tangisannya terhenti tiap kali ibundanya, Tuti Juariah menyenandungkan lagu-lagu. Masuk kelas nol ia sudah mulai menyukai lagu. Minatnya pada lagu semakin besar ketika masuk sekolah dasar. Menginjak kelas 2 SD ia sudah bisa membawakan lagu-lagu barat dan India dengan baik. Ia suka menyanyikan lagu No Other Love, kesayangan ibunya dan lagu Mera Bilye Buchariajaya yang dinyanyikan oleh Latta Mangeshkar. Selain itu ia juga menikmati lagu-lagu Timur Tengah yang dinyanyikan oleh Umm Kaltsum.
Bakat musiknya mungkin berasal dari ayahnya yang fasih memainkan seruling dan menyanyikan lagu-lagu cianjuran, sebuah kesenian khas Sunda. Selain itu, pamannya, Arifin Ganda sering mengajarkan lagu-lagu Jepang ketika Rhoma masih kecil.
Karena usia Rhoma yang tidak berbeda jauh dengan kakaknya, mereka selalu kompak dan pergi berdua-duaan. Berbeda dengan kakaknya yang malas mengikuti pengajian di surau atau di rumah kyai, Rhoma selalu mengikuti pengajian dengan tekun. Setiap kali ayah dan ibunya bertanya, apakah kakaknya ikut mengaji, Rhoma selalu menjawab ‘ya. Berangkat ke sekolah pun mereka selalu berangkat bersama-sama dengan berboncengan sepeda. Keduanya bersekolah di SD Kibono, Manggarai.
Ketika SD, bakat menyanyi Rhoma semakin kelihatan. Rhoma adalah murid yang paling rajin bila disuruh maju ke depan kelas untuk menyanyi. Uniknya, Rhoma tidak sama dengan murid-murid yang lain yang sering malu-malu di depan kelas. Rhoma menyanyi dengan suara keras hingga terdengar sampai kelas-kelas lain. Perhatian murid-murid semakin besar karena Rhoma tidak menyanyikan lagu anak-anak maupun lagu kebangsaan, melainkan lagu-lagu India.
Bakatnya sebagai penyanyi mendapat perhatian dari penyanyi senior, Bing Slamet karena terkesan melihat penampilan Rhoma ketika menyanyikan lagu barat dalam acara pesta di sekolahnya. Suatu hari, ketika Rhoma duduk di kelas 4, Bing Slamet membawanya tampil dalam sebuah show di Gedung SBKA (Serikat Buruh Kereta Api) di Manggarai. Ini merupakan pengalaman yang berharga bagi Rhoma.
Sejak saat itu, meskipun belum berpikir untuk menjadi penyanyi Rhoma sudah tidak terpisahkan lagi dari musik. Atas usaha sendiri ia belajar memainkan gitar hingga mahir. Karena saking tergila-gilanya dengan gitar, Rhoma sering membuat ibunya marah besar. Setiap kali ia pulang sekolah yang pertama dicarinya adalah gitar. Begitu pula ketika setiap kali ia keluar rumah hampir selalu membawa gitar. Pernah suatu kali ibunya menyuruh Rhoma menjaga adiknya, tetapi Rhoma lebih suka memilih bermain gitar. Akibat ulah tersebut, ibunya merampas gitarnya lalu melemparkannya ke pohon jambu hingga pecah. Kejadian itu membuat Rhoma sedih karena gitar adalah teman nomor satu baginya.
Perkembangan selanjutnya dalam mempelajari musik ia mulai menyadari bahwa meskipun ayah dan ibunya pasangan berdarah ningrat yang menyukai musik, tetapi mereka tetap menganggap bahwa dunia musik bukanlah sesuatu yang patut dibanggakan atau dijadikan profesi. Ibunya sering meneriakkan ‘berisik’ setiap kali ia menyanyi dan beranggapan, bahwa musik akan menghambat sekolahnya. Kenyataan ini membuat bakat musik Rhoma semakin berkembang di luar rumah karena jika di rumah ia kurang mendapat dukungan.
Pada saat Rhoma duduk di kelas 5 SD tahun 1958 ayahnya meninggal dunia. Sang ayah meninggalkan delapan anak yaitu: Benny, Rhoma, Handi, Ance, Dedi, Eni, Herry dan Yayang. Kemudian, ibunya menikah lagi dengan seorang perwira ABRI, Raden Soma Wijaya yang masih ada hubungan famili dan juga berdarah ningrat. Ayah tirinya ini membawa dua anak dari istrinya yang dulu dan setelah menikah dengan ibu Rhoma memiliki dua anak lagi.
Ketika ayah kandungnya masih hidup suasana di rumahnya feodal. Bahasa sehari-hari ayah dan ibunya adalah bahasa Belanda. Segalanya harus serba teratur dan menggunakan tatakrama tertentu. Para pembantu harus memanggil anak-anak dengan sebutan ‘Den’ (raden). Anak-anak harus tidur siang dan makan bersama-sama. Ayahnya juga tak segan-segan menghukum mereka dengan pukulan jika dianggap melakukan kesalahan, seperti bermain hujan ataupun membolos sekolah.
Keadaan keluarga Rhoma di Tebet waktu itu memang tergolong cukup kaya bila dibandingkan masyarakat sekitar. Rumahnya mentereng dan memiliki beberapa mobil, seperti, mobil merk Impala, mobil yang tergolong mewah pada waktu itu. Rhoma juga selalu berpakaian bagus dan mahal.
Namun, suasana feodal tersebut tidak ada lagi setelah ayah tirinya hadir di tengah-tengah keluarga mereka. Bahkan, berkat ayah tiri serta pamannya inilah Rhoma mendapatkan ‘angin’ untuk menyalurkan bakat musiknya. Secara bertahap ayah tirinya membelikan alat musik akustik seperti, gitar, bongo, dan sebagainya.
Dunia Rhoma di masa kanak-kanak rupanya bukan hanya di dunia musik. Rhoma juga sering adu jotos dengan anak-anak lain. Lingkungan pergaulannya ketika itu tergolong keras. Anak-anak saat itu cenderung mengelompok dalam geng dan satu geng dengan geng lainnya saling bermusuhan atau paling tidak saling bersaingan. Dengan demikian perkelahian antar geng sering tak terhindarkan.
Bukitduri, tempat tinggalnya hampir setiap kampung di daerah itu terdapat geng (kelompok anak muda). Di Bukitduri ada BBC (Bukitduri Boys Club), di Kenari ada Kenari Boys, Cobra Boys, dan sebagainya. Banyak anak muda dari Bukitduri Puteran dan dari Manggarai yang bergabung dengan Geng Cobra. Geng-geng ini saling bermusuhan sehingga keributan selalu hampir terjadi setiap mereka bertemu.
Satu hal yang cukup menonjol pada diri Rhoma adalah, bahwa teman-temannya hampir selalu menjadikannya sebagai pemimpin. Tentu saja bila gengnya bentrok dengan geng lain, Rhoma-lah yang diharapkan tampil di depan untuk berkelahi. Meskipun pernah menang beberapa kali Rhoma juga sering mengalami babak belur bahkan luka cukup parah karena dikeroyok 15 anak di daerah Megaria.
Ketika ia masuk SMP tempat-tempat berlatih silat semakin marak. Tetapi, bagi Rhoma ilmu bela diri nasional ini tidaklah asing karena sejak kecil ia sudah dapat latihan dari ayahnya dan beberapa guru lainnya. Rhoma pernah belajar silat Cingkrik (paduan silat Betawi dan Cimande) kepada Pak Rohimin di Kebon Jeruk, Jakarta Barat. Rhoma juga pernah belajar silat Sigundel di jalan Talang, selain beberapa ilmu silat yang lain. Bila terjadi perkelahian antar geng para anggotanya saling menjajal ilmu silat yang telah mereka pelajari.
Karena kebandelannya itulah, maka Rhoma beberapa kali harus tinggal kelas sehingga karena malu maka ia sering berpindah sekolah. Kelas 3 SMP pernah dijalaninya di Medan, Sumatera Utara ketika ia dititipkan di rumah pamannya. Tapi, tak berapa lama kemudian, ia pindah lagi ke SMP Negeri XV Jakarta.
Kenakalan Rhoma terus berlanjut hingga bangku SMA. Pada waktu bersekolah di SMA Negeri VIII Jakarta, ia pernah kabur dari kelas lewat jendela karena ingin bermain musik dengan teman-temannya yang sudah menunggunya di luar. Kegandrungannya pada musik dan berkelahi di dalam dan luar sekolah membuatnya sering keluar masuk sekolah SMA. Selain di SMA Negeri VIII Jakarta, ia juga pernah tercatat sebagai siswa di SMA PSKD Jakarta, SMA St. Joseph di Solo dan akhirnya ia menetap di SMA 17 Agustus Tebet, Jakarta, tak jauh dari rumahnya.
Pada masa SMA di Solo Rhoma pernah melewati masa-masa sangat pahit. Ia terpaksa menjadi pengamen di jalanan kota Solo. Di sana ia ditampung di rumah seorang pengamen yang bernama Mas Gito. Sebenarnya sebelum terdampar di Solo ia berniat hendak belajar di pesantren Tebu Ireng, Jombang, Jawa Timur. Namun, karena tidak membeli karcis Rhoma, Benny (kakaknya) dan tiga orang temannya, Daeng, Umar dan Haris harus main kucing-kucingan dengan kondektur selama dalam perjalanan. Daripada terus gelisah karena takut ketahuan dan diturunkan ditempat sepi, mereka akhirnya memilih turun di Stasiun Tugu, Yogyakarta. Dari Yogya mereka naik kereta lagi menuju Solo.
Ketika di Solo Rhoma melanjutkan sekolahnya di SMA St. Joseph. Biaya sekolahnya diperoleh dari ngamen dan menjual beberapa potong pakaian yang dibawanya dari Jakarta. Namun karena di Solo sekolahnya tidak lulus, Rhoma harus pulang ke Jakarta dan melanjutkan sekolah di SMA 17 Agustus sampai akhirnya lulus tahun 1964. Kemudian, ia kuliah di Fakultas Sosial Politik, Universitas 17 Agustus. Tapi, hal tersebut hanya bertahan satu tahun karena ketertarikannya pada dunia musik yang begitu besar.
Musik pop dan rock merupakan langkah pertama Rhoma sebagai pemusik dan penyanyi. Seperti dikisahkan kakak kandungnya, Benny Muharram, bahwa Rhoma sempat enggan merekam lagu Melayu yang ditawarkan oleh Dick Tamimi dari perusahaan rekaman Dimita Moulding Company pada tahun 1967, meskipun sebelumnya dia sudah sering menyanyi bersama sejumlah orkes melayu.
Selain menjadi penyanyi Orkes Melayu Candraleka dan Indraprasta, Rhoma juga melantunkan suaranya bersama Band Tornado dan Varia Irama Melody. Bersama band-band tersebut Rhoma membawakan lagu-lagu pop barat dan menyanyi sambil meniru persis suara Paul Anka melalui lagu yang berjudul Diana ataupun Put Your Head On My Shoulder dan lagunya Andy Williams seperti, Butterfly, Moon River, serta Tom Jones seperti, Green-green Grass of Home, Dellilah.
Rhoma memang sudah bergelut dengan musik pop sejak masih di bangku SMA. Bersama teman-teman sekolahnya ia sempat membentuk Band Gayhand. Ketika musik Rock n’ Roll melanda Indonesia, ternyata hal tersebut membuat Rhoma terpesona hingga dalam hatinya ia bertekad “Elvis saja bisa menjadi raja dengan gitarnya, saya juga bisa”.
Namun begitu berada di dalam dunia musik, Rhoma ikut terbawa arusnya. Dengan meniru gaya menyanyi Benyamis S. dan Ida Royani, Muchsin Alatas dan Titiek Shandora yang sedang populer, Rhoma tidak keberatan diduetkan dengan Inneke Kusumawati oleh Amin Widjaya dari perusahaan rekaman Metropolitan dan Canary Records. Diiringi Band Zaenal Combo pimpinan Zaenal Arifin, Rhoma dan Inneke rekaman dalam sejumlah lagu seperti, Pujaan Hati, Di Rumah Saja, Bunga dan Kupu-kupu, Mohon Diri, Mabuk Kepayang, Jangan Dekat-dekat, Anaknya Lima, Si Oteh, Lonceng Berbunyi, Melati di Musim Kemarau dan Cinta Buta. Menurut Zakaria, pimpinan Orkes Pancaran Muda yang salah satu lagunya, Anaknya Lima, dibawakan duet ini. Munculnya pasangan Rhoma-Inneke sempat menggoyahkan popularitas Muchsin Alatas dan Titiek Sandora.
Melihat keberhasilannya berduet dengan Inneke, kemudian Zakaria menyarankan Rhoma berduet dengan Wiwiek Abidin untuk mengikuti lomba menyanyi di Singapura pada tahun 1971, dan duet Rhoma-Wiwiek berhasil menjadi juara.
Pada acara Panggung Gembira Hari Radio ke 26 di halaman gedung RRI Jln. Merdeka Barat, 19 Januari 1971, walau termasuk masih baru, duet Rhoma-Inneke menjadi pusat perhatian di antara penyanyi-penyanyi duet lainnya, seperti, Elly Kasim-Tiar Ramon, Vivi Sumanti-Frans Doromez dan Ida Royani- Benyamin Sueb. Duet Rhoma-Inneke juga diiringi oleh Band Galaxi pimpinan Jopie Item ketika rekaman. Dengan pakem musik rock, Jopie mengiringi Rhoma mengiringi sendirian dengan pekik dan teriakan yang kemudian diteruskannya setelah mendirikan Soneta Group pada 13 Oktober 1970.
Pergaulan Rhoma dengan musik pop dan rock pula yang mempertemukannya dengan pimpinan band perempuan Beach Girls yang bernama Veronica Agustina Timbuleng dan lantas menikahinya pada tahun 1972. Pasangan ini dikaruniai tiga orang anak, yaitu Debbie Veramasari, Fikri Zulfikar dan Romy Syahrial.
Arus industri musik juga sempat membawa Rhoma dan Vero bertrio dengan Debbie mengikuti sukses Chicha dengan lagu Heli serta Yoan dengan lagu Si Kodok pada tahun 1976. Akan tetapi, setelah memimpin grupnya sendiri, Soneta Group yang bersemboyan Voice of Moslem (Suara Muslim), Rhoma justru menjadi arus itu sendiri dengan menyuntikkan musik rock ke dalam album dangdutnya yang pertama yang berjudul ‘Begadang’, yang berisi lagu-lagu Begadang, Sengaja, Sampai Pagi, Tung Keripit, Cinta Pertama, Kampungan, Ya Le Le, Tak Tega dan Sedingin Salju. Akibatnya, Rhoma menyulut pro dan kontra.
Komunitas dangdut banyak yang keberatan, sementara kalangan pemusik rock menerima dengan sinis. Ujung-ujungnya diadakan diskusi yang bertajuk “Sekitar Musik Hard Rock dan Dangdut” di Gedung Merdeka Bandung pada akhir Juni 1976, dengan Maman S. dari majalah Aktuil sebagai penyelenggara, dan menghadirkan pembicara Dr. Sudjoko dari ITB, Remy Silado, Benny Subarja dan Denny Sabri sebagai wakil Rhoma yang tidak hadir. Ahmad Albar dan Harry Roesli yang diundang tidak juga tidak kelihatan. Eksperimen Rhoma yang semestinya dijadikan perhatian serius justru menjadi olok-olok hingga timbul ejekan, seperti, tahi anjing dan bistik jangan dibandingkan gado-gado. Grup rock God Bless dan Soneta dipertemukan di Istora, pada 22 Desember 1977 dengan maksud melihat mana yang lebih hebat, rock atau dangdut. Padahal, sebelum manggung Rhoma melepaskan merpati putih sebagai tanda perdamaian.
Sebagaimana diskusinya, pertunjukan di Istora tersebut juga tidak memberikan solusi yang konkret. Grup musik rock tetap berjalan sebagaimana biasa, sementara Rhoma justru terus berkibar dengan dangdut rocknya yang semakin membumi sampai-sampi masyarakat menjulukinya ‘Raja Dangdut’. Album-album rekamannya yang semakin ‘ngerock’ mengalir tanpa bisa dibendung, bahkan oleh pemerintah Orde Baru sekalipun yang dengan alasan politik melarangnya tampil di stasiun televisi satu-satunya saat itu, TVRI. Hal tersebut merupakan dampak atas lagu-lagunya yang menyindir pemerintah, seperti pada lagu Hak Azasi. Pada lagu tersebut dengan gagah berani Rhoma berbicara mengenai HAM, kebebasan berbicara, beragama, bekerja dan sebagainya.
Album rekamannya menjadi arus yang memutar roda industri musik semakin kencang. Setelah album Begadang menjadi sangat populer, menyusul album-album berikutnya, seperti; Penasaran (1976), Rupiah (1976), Darah Muda (1977), Musik (1977), 135 Juta (1978), Santai (1979), Hak Azasi (1980), Begadang II (1981), Sahabat (1982), hingga Indonesia (1983), yang semuanya diproduksi oleh Yukawi Corporation. Perusahaan rekaman ini lantas berubah menjadi Soneta Records, milik Rhoma.
Langkah tegap Rhoma semakin mantap dengan membintang 24 judul film, yaitu ;
- Oma Irama Penasaran (1976),
- Gitar Tua Oma Irama (1977),
- Darah Muda (1977),
- Oma Irama Berkelana I (1978),
- Oma Irama Berkelana II (1978),
- Begadang (1978),
- Raja Dangdut (1978),
- Cinta Segitiga (1979),
- Camelia (1979),
- Perjuangan dan Doa (1980),
- Melodi Cinta Rhoma Irama (1980),
- Badai di Awal Bahagia (1981),
- Pengorbanan (1982),
- Satria Bergitar (1984),
- Cinta Kembar (1984),
- Pengabdian (1985),
- Kemilau Cinta di Langit Jingga (1985),
- Menggapai Matahari I (1986),
- Menggapai Matahari II (1986),
- Nada-nada Rindu (1987),
- Bunga Desa (1988),
- Jaka Swara (1990),
- Nada dan Dawah (1991),
- Tabir Biru (1994),
diteruskannya dengan penerbitan soundtrack yang laris manis. Dalam film Darah Muda, Rhoma bahkan menggandeng Ucok Harahap dari grup rock Aka yang pernah bertarung dengan Soneta Group di atas panggung. Pertarungan musik rock dan dangdut juga adalah inti cerita film ini.
Berdasarkan data penjualan kaset dan jumlah penonton film-film yang dibintanginya, penggemar Rhoma tak kurang dari 15 juta atau 10% penduduk Indonesia. Ini catatan sampai pertengahan tahun 1984. “Tidak ada kesenian mutakhir yang memiliki lingkup sedemikian luas”, tulis majalah Tempo pada 30 Juni 1984. sementara itu Rhoma sendiri berkata, “Saya takut publikasi, ternyata, saya sudah terseret jauh”.
Data PT Perfin menyebutkan, hampir semua film Rhoma laku. Bahkan, sebelum sebuah film selesai diproses orang sudah membelinya, seperti film berjudul Satria Bergitar misalnya. Film yang dibuat dengan biaya Rp 750 juta ini, ketika belum rampung sudah memperoleh pialang Rp 400 juta. Menurut kakaknya, Benny, yang juga produser PT Rhoma Film, Rhoma tidak pernah makan uang dari hasil film, tetapi dari hasil penjualan kaset. Uang hasil film disumbangkan untuk, antara lain, masjid, yatim piatu, kegiatan remaja dan perbaikan kampung. Bahkan, pada tahun 1983 Rhoma membayar zakat sebesar Rp 6 juta.
Meskipun demikian, jika dikaitkan dengan perolehan material, Rhoma bisa dikatakan sebagai pemusik terkaya di negeri ini. Bayangkan, sebelum pemusik lain naik mobil Mercy, ia sudah menikmati kenyamanan mobil mewah itu sejak tahun 70-an. Hal tersebut terindikasi ketika membaca wawancaranya dengan harian The Jakarta Post, saat Rhoma secara rendah hati menyatakan punya uang yang cukup meski tidak banyak. Hal itu masuk akal, mengingat sejeblok-jebloknya kaset Rhoma Irama di pasaran, minimal akan terjual sampai 400 ribu copy per album. Ini semakin menggelikan jika dibandingkan dengan musisi di luar dangdut yang acapkali berbangga secara berlebihan meski kasetnya hanya terjual tak lebih dari 100 ribu copy.
Boleh jadi sampai kini kejayaan Rhoma belum tergantikan. Kalau dulu ada sebutan The Big Five untuk para ‘Bintang Mahal’, seperti, Roby Sugara, Roy Marten dan Yati Ocktavia, maka pada saat yang sama sebenarnya nilai kontrak Rhoma tetap jauh di atas mereka. Bahkan, banyak produser film rela menunggu giliran sampai tiga tahun hanya untuk dapat mengontrak Rhoma.
Selain itu, Rhoma juga terhitung sebagai salah satu penghibur paling sukses dalam mengumpulkan massa. Rhoma bukan hanya tampil di dalam negeri, tetapi ia juga pernah tampil di Kuala Lumpur, Singapura dan Brunei Darussalam dengan jumlah penonton yang hampir sama ketika ia tampil di Indonesia. Beberapa media massa Indonesia melaporkan, bahwa, penonton pertunjukan Rhoma di berbagai daerah ada yang jatuh pingsan atau celaka lantaran terlalu berdesakan. Hal yang sangat disesalkan Rhoma sendiri. “Untuk mendapatkan hiburan, mengapa mesti sampai jatuh korban begitu?” katanya.
Rhoma menyatakan, bahwa dirinya banyak dijadikan bahan rujukan penelitian. Ada sekitar 7 skripsi tentang dirinya dan musik yang telah dihasilkan. Selain itu, peneliti asing juga kerap menjadikannya obyek penelitian, salah satunya adalah William H. Frederick, Doktor Sosiologi, Universitas Ohio, AS pada 1985 dengan judul; Rhoma Irama and The Dangdut Style: Aspect of Contemporary Indonesia Popular Culture, yang meneliti tentang kekuatan popularitas serta pengaruh Rhoma Irama pada masyarakat. Ia menyebutkan dalam tesisnya, bahwa: “Rhoma Irama adalah revolusioner dalam dunia musik Indonesia. Hampir bisa dipastikan, di Indonesia, Rhoma Irama adalah penghibur paling jempolan.
Sejak rapat-rapat raksasa di masa Demokrasi Terpimpin, acara panggung yang paling banyak dibanjiri massa adalah panggung Rhoma Irama”. Lebih lanjut ia mengatakan, “Bila di dunia musik Amerika sosok Mick Jagger sangat berpengaruh, di Indonesia, bandingan sosok yang sepadan dengannya ada pada figur Rhoma Irama. Kedua orang ini sama-sama jenius dan otodidak. Keduanya mampu tampil ke posisi puncak musikalnya karena kekuatan bakat alam yang luar biasa hebat.”
Pada akhir April 1994 Rhoma Irama menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) dengan Tanaka dari Life Record Jepang di Tokyo. Sebanyak 200 buah judul lagunya akan direkam ke dalam bahasa Inggris dan Jepang, untuk diedarkan di pasar Internasional. Rencananya lagu-lagu tersebut dibuat dalam bentuk laser disc (LD) dan compact disc (CD).
Mereka digambarkan sebagai raja dan ratu yang sama-sama mempunyai kerajaan. Suasana itu makin kental dan legitimate dengan hadirnya MURI (Museum Rekor Indonesia -red.) yang memasukkan Rhoma dan Elvy sebagai raja dan ratu dangdut Indonesia. Meski terlambat, tentu cukup menghibur. Soalnya, jauh sebelum itu, di tahun 1985, majalah Asia Week telah menempatkan Rhoma Irama sebagai raja musik Asia Tenggara.
KONSEP RADIO BG 89,50 FM
Radio BG adalah sebuah stasiun radio dengan target pendengar Dewasa Muda. Pintar, Positif, Kreatif, Low Profile, dan Peduli terhadap sekeliling adalah
COMPANY PROFILE
Nama Station : RADIO BG
Frekwensi : FM 87,60 Mhz
Call Sign : PM 3 FJB
Alamat Studio : Jl. Simpang Tiga, Buk Gajah Raya 132
Widasari Indramayu 45271
Telepon/Fax. : (0234) 352780, 353867
Direktur / Penjab : Yudhi Harjo. Amd
Kepala Studio : Hendro Sugendro. Sip
Programmer : Sunny Nugroho
Marketing : Yudhi Harjo, Amd.
Kontak Person : Sonny Nugroho
Management : PT. RADIO BUK GAJAH MEGASWARATAMA
No. NPWP : 01.912.955.0.426.000
No. Akte Pendirian : 8,-
No. TDP : 101819200197
No. PRSSNI : Sedang di proses
Format Musik : Oldies & Adult Contemporary
Hits -Top 40, Populer & Soft
Persentasi Musik : Indonesia 70% & Mancanegara 30%
Format Station : Dewasa Muda
Position Station :
Pendidikan & Mendidik
Informasi & Hiburan
Format Siaran : Music + Informasi
Jam Operasional : Pukul 05.00 WIB s/d 24.00 WIB
POTENSI DAERAH
Nama Wilayah : Kecamatan Widasari - Kabupaten Indramayu
Luas Wilayah : 2.196.33 KM2
Jumlah Penduduk : 1.558.084 Jiwa
Laki-Laki : 773.951 Orang
Wanita : 784.133 Orang
Nelayan : 4,20 %
Petani : 88,20 %
Karyawan / dll : 4,41 %
Pedagang / Pengusaha : 3,19 %
SARANA PENDIDIKAN
SD : 1.075 Buah
SLTP : 96 Buah
SLTA : 24 Buah
Perguruan Tinggi : 3 Buah
SARANA PERDAGANGAN
Pasar Umum : 18 Buah
Pasar Daerah : 13 Buah
Pasar Desa : 18 Buah
SARANA PERHUBUNGAN
Stasiun Kereta Api : 12 Buah
Terminal Bus : 5 Buah
Angkutan Umum : Angkutan Kota &
Angkutan Pedesaan
SARANA INDUSTRI
Pertamina Balongan ( Exor I s/d III )
SARANA PARIWISATA
Hotel Bintang : 3 Buah
Hotel Non Bintang : 19 Buah
Obyek Wisata : 5 Buah
TARGET AUDIENCE
1. Usia Potensial : 15 – 45 tahun keatas
2. Jenis Kelamin : Pria 45 %, Wanita 55 %
3. Pendidikan : Pelajar, Mahasiswa, Karyawan, Pegawai, Pedagang
4. Ekonomi : B,C,D
5. Psikologi : Denger Musik, Baca Majalah/Koran
6.
7. Tipe Pendengar : Aktif, Kreatif, Dinamis dan Berdaya Beli Tinggi
8. Kepribadian : Kompleksitas Remaja, Dewasa & Berumah Tangga
DATA PENDENGAR
A. Prosentase Pendengar berdasarkan Usia :
- Usia 15 – 20 tahun : 30 %
- Usia 20 – 30 tahun : 35 %
- Usia 30 – 45 tahun : 25 %
- Usia 45 tahun ke atas : 10 %
B. Prosentase Pendengar Berdasarkan Pekerjaan :
1. Pelajar : 20 %
2. Mahasiswa : 15 %
3. Karyawan : 20 %
4. Pegawai Negeri : 20 %
5. Pedagang : 10 %
6. Lainnya : 15 %
C. Prosentase Pendengar Berdasarkan Jenis Kelamin :
1. Pria : 45 %
2. Wanita : 55 %
D. Prosentase Pendengar Berdasarkan Pendidikan :
1. Pasca Sarjana : 5 %
2. Sarjana : 30 %
3. SLTA : 40 %
4. SLTP : 10 %
5. SD : 10 %
6. Non Pendidikan : 5 %
E. Prosentase Pendengar Berdasarkan Penghasilan Tiap Bulan :
1. Rp. 0,00 - Rp. 200.000,00 : 25 %
2. Rp. 200.000,00 - Rp 500.000,00 : 40 %
3. Rp. 500.000,00 - Rp. 1.000.000,00 : 20 %
4. Rp. 1.000.000,00 - Rp. 1.500.000,00 : 10 %
5. Rp. 1.500.000,00 - ……………… : 5 %
KETERANGAN TEKNIK
1. Daya Antena : 4,5 dB
2. System : Vertical Omnidirectoral
3. Kekuatan Pemancar : 3000 Watt
4. Sumber Tenaga : PLN
5. Coverage Area : Indramayu,
Sumedang
SKILL MANAGEMENT
Sebagai perwujudan komitment untuk selalu inovatif dan meghasilkan yang terbaik dan tidak hanya berfungsi sebagai radio siaran, tetapi juga memproduksi berbagai macam program untuk menunjang promosi para client maupun untuk memuaskan pendengar setia BG sendiri.
A. Production House
Sebagai sebuah production house, radio BG juga memproduksi spot iklan jingle, iklan layanan masyarakat dan lain-lain dengan menggunakan alat bantu komputer untuk menghasilkan suara setara dengan Audio CD.
B. Show Organizer
Sebagai sebuah Show Organizer, Radio BG juga membuat beberapa event, seperti : showbiz, sampling product, launching product, baik pada tingkat Kabupaten maupun Wilayah III.
C. BG Club
Sebagai sebuah wadah kreatifitas para pendengar setia radio BG, serta menciptakan kegiatan-kegiatan yang akan mendukung program promosi para client selain sebagai wadah untuk lebih mempererat tali silaturahmi antar pendengar radio BG.
Definisi Kepemimpinan
Sedangkan menurut Kamus Bahasa Arab Pemimpin ( AL Qaid) artinya yang menuntun. Sedangkan secara etimologis Pemimpin adalah orang yang berada di depan sebagai penunjuk kebaikan dan pembimbing ke arah keselamatan bagi pengikutnya.
Menurut Weirich dan Koontz (1993), kepemimpinan merupakan seni atau proses mempengaruhi orang lain, sehingga mereka bersedia dengan kemampuan sendiri dan secara antusias bekerja untuk mencapai tujuan organisasi.
Hal yang sama disampaikan oleh Hellriegel dan Slocum (1992) kepemimpinan adalah kemampuan untuk mempengaruhi, memotivasi dan mengarahkan orang lain guna mencapai tujuan. Dengan begitu kesimpulannya kepemimpinan adalah seni untuk mempengaruhi orang lain agar bergerak dan bekerja mencapai tujuan bersama.
Pemimpin yang rendah hati dan sederhana
Seorang pemimpin dalam bidang apapun, apakah dalam bisnis, pemerintahan, mayarakat maupun lainnya, sebaiknya menyadari bahwa kedudukan dan jabatan yang disandangnya sesungguhnya adalah amanah yang harus dipertanggungjawabkan, baik kepada anggota yang dipimpinnya maupun kepada Tuhan. Maka ketika berhasil menduduki posisi pimpinan, apakah dalam pemerintahan, Bisnis, masyarakat, maupun organisasi lainnya, sebaiknya tidak melalaikan amanah sebagai pemimpin yang melayani anggota dan masyarakat yang dipimpinnya. Seorang pemimpin, perlu mengembangkan sikap kepemimpinan yang melayani atau dalam istilahnya sekarang adalah "servant leader" .
Sayangnya dewasa ini banyak sekali pemimpin yang kurang menyadari amanahnya dan lebih berorientasi pada tujuan pragmatisme dan nilai-nilai kemewahan seperti mengejar harta kekayaan. Pemimpin yang berorientasi pada nilai-nilai kemewahan dan materialisme, akan cenderung dikendalikan oleh nafsu dan ego pribadinya. Maka tidak heran ketika sedang memegang kekuasaan, yang dipikirkan adalah apa yang dapat diambil dengan posisinya saat ini, apa yang
dapat diperoleh bagi keuntungannya dari orang lain, bukan bertanya apa kebaikan yang dapat diberikan pada orang lain.
Pemimpin yang berorientasi pada nilai-nilai materialisme dan kemewahan duniawi, cenderung mudah menyalahgunakan kekuasaan untuk tujuan kepentingan pribadinya, untuk tujuan kekayaan harta. Bagaimana akhir kehidupan mereka? Banyak diantara mereka yang masa tuanya tidak hidup damai, malah gundah gulana karena dijerat hukum. Karena sesungguhnya meraih kemuliaan dengan dibungkus materi hanyalah semu dan tipuan belaka.
Pemimpin seperti ini menganggap bahwa melayani orang lain dirasakan sebagai suatu kerendahan baginya, seolah yang harus melakukan adalah orang-orang rendahan. Padahal melayani inilah sesungguhnya misi mulia yang sebenarnya diamanahkan Allah kepada setiap hamba-Nya yang hidup di dunia ini, sebagai "Khalifah" di bumi.
Menjadi pemimpin yang rendah hati dan mengedepankan kesederhanaan adalah landasan bagi keberhasilan yang penuh makna. Dalam dunia bisnis misalnya, kita dapat belajar dari para pemimpin bisnis atau CEO dunia seperti Konosuke Matsushita, Soichiro Honda, Anita Rhodick dan lainnya. Dalam kehidupan kita mengenal para pelopor kehidupan seperti Mahadma Gandhi, Bunda Therea, Imam Al-Gazali dan lain sebagainya. Mendengar nama-nama mereka semua sungguh
menggetarkan hati kita semua. Apakah mereka semuanya berhasil karena kepemimpinan dengan kemewahannya ? Belajar dari kisah sukses mereka, kita akan menemukan sikap yang rendah hati, sikap sederhana dan senang melayani orang lain. Mereka senang mengabdikan hidupnya untuk melayani dan menyumbangkan hartanya untuk kemanusiaan. Kebajikan yang diwariskan dari
kepemimpinan menjadikan nama-nama mereka dikenang harum sampai sekarang.
Memang tidak mudah untuk selalu rendah hati dan memiliki mentalitas melayani dari hati. Apalagi kalau kita memiliki kedudukan sebagai eksekutif, CEO, pemimpin Bisnis, pemimpin pemerintahan, pemimpin masyarakat atau pemimpimpin lainnya yang memiliki kesempatan dilayani dengan kemewahan yang terbuka di depan mata. Kalau manusia terjebak pada dorongan memperturutkan kepentingan nafsu duniawi dan egoisme pribadi semata, pasti akan mementingkan kepentingan sendiri dan maunya justru dilayani dengan kemewahannya.
Seorang pemimpin yang rendah hati dalam bekerja ia akan senantiasa berpikir bagaimana dapat mensejahterakan anggota yang dipimpinnya. Pemimpin yang baik dapat menjadi teladan dan menginspirasi anggotanya untuk mengembangkan nilai-nilai pelayanan dari dalam hati. Sehingga anggota organisasipun dalam bekerja juga berpikir bagaimana bisa memberikan layanan terbaik, memberikan kontribusi terbaik melalui peran pekerjaannya dalam organisasinya. Karena setiap orang yang melayani dengan ikhlas berarti telah berpartisipasi menebar rahmat ke seluruh alam. Itulah tugas terhormat seorang pemimpin.
Menjadi pemimpin yang rendah hati memerlukan kesadaran kita untuk mau melakukan transformasi diri dengan mengubah pusat diri yang sebelumnya egoisme dan hawa nafsu, diganti dengan kebeningan hati nurani.
Jadwal Lengkap Piala Dunia 2010 Afrika Selatan. 11 Juni hingga 11 Juli 2010
Sebelumnya saya sudah membuat posting tentang Jadwal Lengkap Piala Dunia 2010 Afrika Selatan. Di situ sudah tertera jadwal pertandingan sejak pertandingan pembuka yang mempertemukan tuan rumah Afrika Selatan dan Meksiko yang digelar pada Jum'at, 11 Juni 2010, pukul 14.00 GMT sampai dengan Grand Final yang akan dilaksanakan pada Ahad, 11 Juli 2010, pukul 18.30 GMT.
Di akhir postingan saya memberi keterangan bahwa perbedaan antara Greenwich Mean Time (GMT) dan Waktu Indonesia bagian Barat (WIB) adalah 7 jam. Dari pada anda harus mengkonversi sendiri dari GMT ke WIB, maka saya membuat postingan Jadwal Piala Dunia 2010 yang sudah dikonversi ke WIB.
FASE GRUP

Untuk mendapatkan gambar yang lebih baik silahkan klik disini!

Untuk mendapatkan gambar yang lebih baik silahkan klik disini!

Untuk mendapatkan gambar yang lebih baik silahkan klik disini!

Untuk mendapatkan gambar yang lebih baik silahkan klik disini!

Untuk mendapatkan gambar yang lebih baik silahkan klik disini!

Untuk mendapatkan gambar yang lebih baik silahkan klik disini!

Untuk mendapatkan gambar yang lebih baik silahkan klik disini!

Untuk mendapatkan gambar yang lebih baik silahkan klik disini!
DELAPAN BESAR SAMPAI DENGAN GRAND FINAL

Untuk mendapatkan gambar yang lebih baik silahkan klik disini!
Itulah Jadwal Pertandingan Piala Dunia 2010 Afrika Selatan dalam WIB yang bisa saya sampaikan kepada teman-teman. Kalau tidak ada kendala, dalam waktu dekat saya akan memposting Jadwal Piala Dunia 2010 untuk pertandingan setiap harinya.
PROFIL RADIO BG FM

RADIO PROFIL
Waktu seperti sangat cepat berlalu, apabila kita benam dalam kesibukan,Tapi bukanlah "denyut hidup" insan masa kini adalah sibuk?. Namun disela sela waktu yang menghimpit, Radio BG kembali menjumpai Anda.
Berawal dari kiprah sekelompok anak muda Indramayu, yang sepakat untuk memandu ide dan kreatifitas di tahun 1995, sejak itu nama Radio BG terus menggema dan menjadi media broadcast yang membuat semarak suasana di kota Indramayu. Di kota ini Radio BG bahkan menjadi barometer "Trend Musik Citra Khas Jiwa Muda", yang Radio BG menyebutnya sebagai "Muda dan Mudi".
Pendengar adalah asset kebanggaan kami. Betapa tidak? “Kaum Muda” termasuk khalayak yang paling pas untuk ajang promosi. “Kaum Muda” termasuk pengambil keputusan dalam membeli bermacam-macam produk. Menurut survei yang kami laksanakan, ternyata Radio BG bisa meraih pendengar yang memiliki daya beli tinggi. Hal ini menjadikan Radio BG sebagai media promosi pemasaran yang efektif, terutama untuk produk “Up Market” dan “Trendy” bagi kaum muda yang dinamis dan konsumtif yang berasal dari “Kalangan Atas atau Pelajar” yang berasal dari “Kalangan Mampu”, dimana mereka mempunyai kemampuan mempengaruhi rekan-rekannya untuk ikut membeli dan mengikuti “Trend Masa Kini”. Maka tidaklah berlebihan kalau kami bangga dengan sebutan : “BG adalah Radio Anak Muda Terdepan”.
Inti dari program-program Radio BG adalah pendekatan dan menjadi teman baik untuk seluruh “Kaum Muda” dengan memenuhi kebutuhan dan memotivasi mereka dalam perjalanan karirnya untuk menjadi seorang profesional. Sebagai calon seorang profesional yang prospektus, mereka membutuhkan informasi yang dapat mengembangkan cakrawala, wawasan dan inovasi mereka.
Kini Radio BG mewarnai udara Indramayu melalui program-program acara yang dirancang khusus untuk mereka yang "Berjiwa Muda".
INFORMASI UMUM
Waktu seperti sangat cepat berlalu, apabila kita benam dalam kesibukan,
Tapi bukanlah “DENYUT HIDUP” insan masa kini adalah SIBUK?. Namun disela sela waktu yang menghimpit, RADIO BG kembali menjumpai anda.
Dalam setiap MILLENIUM,
Selalu muncul satu GENERASI
Yang membawa suatu perubahan baru,
Sebuah RADIO yang mempersembahkan…?
Seluruh informasi di depan kita,
Radio tempat mangkal BERGENGSIi anak muda,
Yang akan membawa menjadi SATU KESATUAN,
Perubahan ini akan meningkatkan…
MOTIVASI dan KREATIVITAS,
MENJALIN KOMUNIKASI antar sesama,
Bertukar FIKIRAN dan berbagi PENGALAMAN,
IDE BARU dan masih banyak lagi,
BERSIAPLAH UNTUK ITU,
DENGARKAN SEKARANG !!!
PERUBAHAN
Begitu deras perubahan melanda, Radio BG tidak lagi ingin ketinggalan. Namun ada yang hakiki perlu Radio BG pertahankan : citra udara yang informatif, komunikatif, simpatik, ramah, santun dan ceria. Mungkin da yang anda rasakan dalam perkembangan isi siaran, Radio BG merasa perlu menyesuaikan diri dengan era informasi dan globalisasi, maka bobot informasi ditambah.
KHALAYAK
Pendengar adalah asset kebanggan kami. Betapa tidak? Anda termasuk khalayak yang paling pas untuk ajang promosi. Anda termasuk pengambil keputusan dalam membeli bermacam-macam produk. Menurut survey yang kami laksanakan, ternyata Radio BG bisa meraih pendengar yang memiliki daya beli tinggi, dibandingkan dengan populasi pada umumnya, dengan banyaknya jenis produk yang tingkat konsumsi lebih tinggi dari populasi pada umumnya. Hal ini menjadikan Radio BG sebagai media promosi pemasaran yang efektif, terutama untuk produk ‘up market dan trendy’ bagi kaum muda dinamis dan konsumtif yang berasal dari kalangan atas atau pelajar yang berasal dari kalangan mampu, dimana mereka mempunyai kemampuan mempengaruhi rekan-rekannya untuk ikut membeli dan mengikuti trend masa kini. Maka tidaklah berlebihan kalau kami bangga dengan sebutan : “BG adalah Radio Anak Muda Terdepan”. Sudah banyak alamat “up to date” kami himpun selama ini, setiap pendengar yang pernah menelepon, menulis surat atau kartu pos selalu kami catat supaya anda selalu mendapatkan pedoman-pedoman acara yang baru. Harap berikan data identitas anda secara lengkap termasuk alamat dan kode pos. Radio BG memang sangat peduli kepada anda, khalayak kami, wujudnya dalam frekwensi kegiatan off air, untuk menambah wawasan, ketrampilan dan pengetahuan pendengar. Kegiatan off air terbuka untuk setiap pendengar. Bentuk dan macamnya beragam, saat penyelenggaraan dan syarat-syaratnyapun selalu kami umumkan lewat siaran radio.
KEPEDULIAN
Kepedulian terhadap masyarakat dan lingkungan, terejawantah melalui peran serta, bila disekitar anda terjadi peristiwa yang berkaitan dengan kepentingan masyarakat luas apalagi mengancam keselamatan jiwa, misalnya kebakaran, banjir, kemacetan lalu lintas dan sebagainya, bantuan anda sangat diharapkan untuk memberi informasi ke studio agar dapat kami pancar luaskan, kami juga mengharapkan peran serta anda dalam berbagai acara yang kami selenggarakan.
RADIO BG Mempersembahkan ;
Lembaran Inspirasi, Persatuan Ide, Seni & Kreatifitas...
Wahana Kawula Muda...
Sebuah Mahakarya Anak Bangsa,
Bersiaplah Untuk Bergetar...
Semua Hanya Ada Di…
RADIO BG 89,50 FM
"CITRA KHAS JIWA MUDA"
LOKASI
Jl. Simpang Tiga No. 20 Widasari
Indramayu, Indonesia, 45271
Telepon: +62234353867